Pemuda ICMIBeranda
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Jurnal
  • Kontak
Hubungi Kami
(021) 799 4466

Pemuda ICMI adalah bagian dari ICMI yang berfungsi sebagai ruang dialog intelektual bagi cendekiawan muda Muslim di Indonesia. Misi kami adalah untuk memperkuat dan mengembangkan ethos ilmiah yang berakar pada nilai-nilai Islam, sambil merangkul pemikiran progresif dan kearifan lokal guna menghadapi tantangan bangsa. Kami berkomitmen untuk membangun kualitas iman, pikir, karya, kerja, dan kehidupan demi kemajuan Indonesia.

https://www.facebook.com/ICMI.INDONESIAhttps://www.instagram.com/pemudaicmi.idhttps://x.com/icmi_id
Halaman
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Berita
  • Jurnal
  • Kontak
Copyright ©2026, Pemuda ICMI. All rights reserved.
  • Beranda
  • /
  • Jurnal
  • /
  • Al-Haqq yang Bergerak Perlahan: Kebenaran, Wujud, dan Ujian Eksistensial Manusia

Al-Haqq yang Bergerak Perlahan: Kebenaran, Wujud, dan Ujian Eksistensial Manusia

Kamis, 22 Januari 2026 pukul 15.13 WIB

Dalam perspektif ḥikmah muta‘āliyah, pertanyaan tentang mengapa kebenaran tampak lambat sementara kebohongan bergerak cepat bukanlah persoalan etika semata, melainkan persoalan ontologi wujud. Kebenaran (al-ḥaqq) tidak dipahami sebagai klaim yang menunggu pembenaran sejarah, melainkan sebagai intensitas wujud itu sendiri. Ia tidak berkompetisi dengan kebatilan pada level kecepatan, sebab kebenaran dan kebatilan tidak berada pada derajat ontologis yang setara.

Mulla Sadra menegaskan prinsip radikal: ashālat al-wujūd yang fundamental bukanlah esensi, melainkan wujud. Dari sini konsekuensinya jelas: kebatilan tidak memiliki wujud mandiri. Ia bukan realitas, melainkan kelemahan intensitas wujud, kegelapan yang hanya tampak ketika cahaya belum sempurna. Maka kebohongan dapat bergerak cepat karena ia tidak membawa beban ontologis; ia tidak memikul tanggung jawab untuk menjadi, cukup untuk tampak.

Kebenaran, sebaliknya, adalah wujud yang bergerak menuju kesempurnaan. Dan gerak ini menurut doktrin al-ḥarakah al-jawhariyyah gerak aksidental, melainkan gerak substansial. Seluruh realitas, termasuk jiwa manusia dan sejarah, sedang bergerak secara gradual dari potensialitas menuju aktualitas yang lebih tinggi. Dalam kerangka ini, kelambatan kebenaran bukan kegagalan, melainkan hukum wujud: segala yang semakin dekat pada kesempurnaan bergerak semakin dalam, bukan semakin cepat.

Di sinilah filsafat Sadrian memberi pembalikan radikal terhadap logika modern tentang progres. Yang cepat bukanlah yang lebih benar, melainkan yang lebih dangkal. Kebohongan bergerak cepat karena ia bergerak di permukaan eksistensi di wilayah persepsi, emosi sesaat, dan kepentingan instan. Kebenaran bergerak lambat karena ia menembus lapisan terdalam wujud, membentuk jiwa, menata akal, dan memurnikan orientasi hidup manusia.

Al-Farabi dan Ibnu Sina telah meletakkan fondasi rasional bagi pandangan ini dengan menempatkan kebenaran sebagai keteraturan intelek dan emanasi wujud. Namun Mulla Sadra melangkah lebih jauh: ia menjadikan manusia sendiri sebagai medan ujian ontologis. Manusia tidak sekadar mengetahui kebenaran; ia menjadi sejauh mana ia menyatu dengannya. Maka, beriman kepada kebenaran bukan sekadar membenarkan proposisi, melainkan mengizinkan wujud diri dibentuk oleh al-ḥaqq sebuah proses yang niscaya lambat dan menyakitkan.

Dalam konteks ini, sejarah bukan arena netral antara kebenaran dan kebohongan, melainkan ruang takāmul (penyempurnaan). Kezaliman dan kebohongan dibiarkan hadir bukan karena mereka setara dengan kebenaran, tetapi karena manusia belum matang secara eksistensial untuk menyerap cahaya kebenaran sepenuhnya. Dunia, dalam pandangan ḥikmah muta‘āliyah, bukan tempat penghakiman final, melainkan tempat pematangan jiwa.

Di sinilah relevansi pemikiran Murtadha Muthahhari menjadi terang. Ia menegaskan bahwa iman kepada kemenangan kebenaran bukan keyakinan politis, melainkan keyakinan ontologis. Kebatilan tidak memiliki masa depan karena ia tidak memiliki akar wujud. Namun ketiadaan masa depan ini tidak berarti kehancuran instan. Ia menunggu sampai kondisi wujud jiwa manusia dan struktur sosial siap untuk menyingkirkannya. Dengan kata lain, keterlambatan kebenaran adalah cermin ketidaksiapan manusia, bukan kelemahan kebenaran itu sendiri.

Bagi kaum intelektual, konsekuensinya sangat berat. Intelektual, dalam horizon Sadrian, bukan sekadar subjek pengetahuan, melainkan agen gerak substansial. Setiap sikap terhadap kebenaran membentuk intensitas wujud dirinya. Ketika intelektual memilih diam demi kenyamanan, ia tidak sekadar mengkhianati etika, tetapi menghambat kesempurnaan eksistensial dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika ia tetap setia pada kebenaran yang lambat, ia sedang menempuh jalan penyempurnaan, meski secara sosial tampak kalah.

Maka dapat dipahami mengapa suara kebenaran sering muncul di akhir. Ia bukan datang terlambat, melainkan datang pada saat struktur wujud telah matang. Kebenaran tidak menyesuaikan diri dengan waktu; waktulah yang perlahan disiapkan untuk kebenaran. Dan manusia khususnya mereka yang mengaku beriman dan berakal diuji: apakah mereka bersedia bersabar dalam gerak wujud ini, atau tergoda oleh kecepatan ilusi.

Dalam perspektif ḥikmah muta‘āliyah, mempertahankan kebenaran adalah laku ontologis tertinggi. Ia bukan heroisme, bukan pula romantisme moral. Ia adalah kesediaan untuk bergerak bersama wujud, meski perlahan, meski sunyi. Sebab pada akhirnya, hanya yang selaras dengan al-ḥaqq yang benar-benar ada. Yang lain secepat apa pun ia bergerak pada hakikatnya sedang menuju ketiadaan.

Penulis
Dr. Ismail Rumadan, MH
Dr. Ismail Rumadan, MH

Ketua Umum Pemuda ICMI